Awas! Orang Tua Sering Marah Bisa Bikin Anak Stres Berkepanjangan

Jika kamu sebagai orang tua tidak bisa mengendalikan amarah, itu bisa berdampak negatif pada buah hati. (Ilustrasi/Pexels) Jika kamu sebagai orang tua tidak bisa mengendalikan amarah, itu bisa berdampak negatif pada buah hati. (Ilustrasi/Pexels)

Marah merupakan suatu hal tubuh bereaksi terhadap sesuatu yang dirasakannya sebagai ancaman. Tubuh akan melepaskan adrenalin, otot-otot menegang, detak jantung dan tekanan darah meningkat, hingga wajah serta tangan bisa memerah.

Marah sendiri merupakan emosi normal pada setiap manusia. Semua orang tua bisa marah dari waktu ke waktu. Tetapi sebagai orang tua tidak bisa mengendalikan amarah, hal itu bisa berdampak negatif pada buah hati.

Institute of Learning and Brain Science of Universitas Washington melakukan sebuah studi, di mana seorang bayi 15 bulan di pangkuan ibunya sambil diberi mainan oleh lawan bicara di hadapannya. Kemudian, dua orang emoter masuk dan pura-pura membaca majalah, sang bayi tersebut terus memperhatikan pergerakan emoter tanpa melihat ke arah mainan.

Lalu, kedua emoter berargumen dengan nada tinggi, hingga bayi kaget terhadap reaksi emoter. Sehingga bayi itu terlihat stres dan ketakutan, ia menunduk dan bernafas cepat, merasakan situasi bahaya dan tidak nyaman.

Tidak hanya itu, bahkan sebuah studi 2010 menyebutkan pada usia 6 bulan, bayi juga sudah bisa menunjukkan reaksi stres terhadap ekspresi wajah cemberut atau marah. Bayi yang terpapar konflik dapat mengalami peningkatan detak jantung, yang juga memicu respons hormon stres.

Dikutip dari gaya.id, berikut efek dan pencegahan stres pada bayi:

Efek jangka panjang

Seiring waktu, peningkatan stres pada bayi dapat menyebabkan kecemasan perpisahan, kegelisahan, dan masalah dengan tidur. Tetapi ada efek yang lebih nyata dari konflik yang berkelanjutan di hadapan mereka. 

Bahkan balita mungkin akan sering membuat ulah atau kesulitan berteman. Kemudian, anak-anak mungkin menunjukkan kesulitan dengan konsentrasi, memiliki kecemasan, atau mengembangkan masalah perilaku.

Sebagai contoh, satu studi tahun 2012 terhadap taman kanak-kanak menemukan bahwa anak-anak yang orang tuanya bertengkar atau sering bertengkar terdampak secara emosional. Mereka lebih mungkin mengalami depresi, kecemasan, dan masalah perilaku pada saat mereka duduk di kelas tujuh.

Studi lain dari tahun 2015 menemukan bahwa terlalu banyak perselisihan keluarga sebenarnya dapat mulai mengubah otak anak-anak dan membuat mereka memproses emosi mereka secara berbeda. Hal ini menyebabkan mereka menghadapi lebih banyak tantangan sosial di kemudian hari.

Baca Juga: Psikolog Sebut Para Orang Tua Perlu Perhatikan Kesehatan Mental

Hal yang harus dilakukan orang tua

Pertama-tama, orang tua harus mengetahui bahwa satu argumen tidak akan merusak anak selamanya. Namun, jika argumen terus berulang maka resiko itu bisa saja terjadi.

Bahkan, perselisihan bisa menjadi kesempatan belajar bagi anak-anak jika dilakukannya dengan baik dan benar: Ini bisa mengajari mereka resolusi konflik yang sehat.

Kuncinya adalah fokus untuk menjadi panutan yang baik bagi anak. Akan sangat baik untuk membiarkan sang buah hati melihat orang tua menyelesaikan sesuatu

Selain itu, pastikan untuk selalu menghubungi anak setelah mereka menyaksikan pertengkaran dari orang tua. Jika ada kesulitan dalam rumah tangga, maka sebaiknya orang tua mempertimbangkan diri untuk melakukan terapi pasangan.



(SUR)

Berita Terkait