Dadali: Pengasuh Pondok Pesantren An Nur, Krangkeng, Indramayu, yakni KH Farid Ashr Waddahr beserta istri dan keponakannya, menjadi korban penganiayaan oleh teroris. Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Indramayu, meminta polisi untuk menyelidiki jaringan tersebut.
Ketua PC GP Ansor Indramayu, Edi Fauzi mengatakan, kasus penganiayaan yang dilakukan oleh pelaku, terindikasi adanya pengaruh paham-paham radikal.
"Kami sangat mengapresiasi langkah yang sudah dilakukan oleh pihak kepolisian. Namun kami juga meminta untuk diusut sampai akar-akarnya," kata Edi, dilansir dari Medcom.id, Jumat 11 Maret 2022.
Menurut Edi, jika kasus tersebut tidak diusut sampai akar-akarnya, maka kasus serupa sangat berpotensi terjadi kembali. Karena Edi menilai, kasus pembacokan yang menimpa Ketua Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu'tabaroh an-Nahdliyyah (JATMAN) Indramayu itu, hanya imbas belaka.
"Inti dari masalah ini adalah, berkembangnya paham-paham intoleran dan radikal, yang berpotensi melakukan tindakan kekerasan dan terorisme," ujarnya.
Edi mengungkapkan, alasan kewaspadaan terkait gerakan radikal di wilayah tersebut, dikarenakan adanya sejarah pelaku teror yang berasal dari wilayah yang sama.
Aksi terorisme yang terjadi di Sarinah Jakarta pada tahun 2016 lalu, salah satu pelakunya yaitu Ahmad Muhazan alias Azan, merupakan warga Krangkeng Indramayu.
"Kita harus lakukan antisipasi sejal dini. Kami juga sudah intruksikan kepada seluruh anggota Ansor, untuk mengampanyekan budaya toleransi dan moderasi agama," ujarnya.
(UWA)
Ketua PC GP Ansor Minta Polisi Usut Tuntas Penyerangan Kiai di Indramayu
Polisi tangkap pelaku pembacokan Kiai di Indramayu, Jawa Barat. Foto: Medcom/Aditya