Sejumlah korban gempa Cianjur terindikasi mengalami gangguan mental emosional. Hal itu diketahui setelah Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur melakukan pemeriksaan secara psikis.
"Jadi kita melakukan screening gangguan psikologis. Memang belum menyeluruh, hanya beberapa pengungsian. Didapatkan gangguan mental emosional dengan persentase cukup tinggi," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Irvan Nur Fauzy, dikutip dari Medcom.id, Minggu, 18 Desember 2022.
Irvan mengatakan gangguan mental emosional merupakan hal wajar pascabencana, terlebih di awal-awal kejadian. Untuk itu, pihaknya berupaya memberikan layanan kepada pengungsi yang mengalaminya.
"Bisa trauma healing atau konsultasi individu. Jadi ini sudah berjalan. Kita dibantu dari Komunitas Psikologi Klinik Indonesia, ada psikiater, ada psikolog, ada perawat jiwa," tutur Irvan.
Dia menjelaskan tingkat gangguan mental emosional para pengungsi bervariatif. Ada yang dikategorikan berat, sedang, serta ringan.
"Untuk yang ringan treatment-nya mungkin trauma healing biasa, satu kali juga bisa. Tetapi untuk yang sedang ataupun berat harus secara periodik," ucapnya.
Sejauh ini pengungsi yang terindikasi mengalami gangguan mental emosional rata-rata kalangan dewasa. Untuk kalangan anak-anak, tutur Irvan, relatif cukup sulit mengukurnya.
"Tetapi yang ekstrem memang ada beberapa kasus dan kami sudah menindaklanjuti. Ada yang pascaoperasi, lalu juga pascaperawatan karena sempat koma," kata Irvan.
Baca Juga: PMI Dirikan Camp Center di Lokasi Pengungsian Korban Gempa Cianjur
(SUR)